Blog ini dibuat untuk belajar. Karena setalah membaca atau melakuakn sesuatu jika tidak di tulis saya seringkali lupa. Lalu kenapa di blog? barangkali ada yang butuh infonya bisa dipake juga.
Terima kasih - Uzlif
Sehabis mendengar podcast dari asumsi yang mengundang mas Ainun Najib dari @kawalcovid19 saya kembali cemas. Diperkirakan wabah ini akan berlangsung paling lambat sampai satu tahun kedepan. Lalu apa yang dapat saya lakukan? Terutama untuk persiapan kemungkinan terburuk. Bertahan hidup. Ya mungkin saya memang mudah untuk sepanik itu, tapi mempersiapkan diri juga menjadi cara saya untuk menghilangkan kepanikan itu. Maka saya mulai mencari kehiatan untuk menghilanhkan pikiran pikiran negatif tersebut. Saya akhirnya memilih kembali bercocok tanam.lalu saya mengumpulkan berbagai informasi tanaman yang cocok untuk berkebun. Saya mengumpulkan beberapa sayuran yang mudah perawatannya, kecil ukurannya dan dapat digunakan dalam berbagai masakan. Diantaranya adalah: Bumbu 1. Segala jenis cabai 2. Jahe 3. Tomat Daun 1. Daun bawang 2. Bayam 3. Terong 4. Tomat. Diatas merupakan tanaman tanaman yang mudah ditanam di rumah untuk berkebun. Tidak hanya baik untuk kita, mencoba berbagai macam ...
Sepeeti yang kita tau, masalah tiap generasi berbeda beda. Jika kebanyakan boomer dulu dihadapkan pada masalah ekonomi, masalah generasi milenial dan z adalah masalah mental. Sayangnya seringkali generasi yang lebih tua tidak mencoba memahami kondiai yang saat ini terjadi. Baru saja saya baca, di Inggris dengan tingkat literasi yang jauh lebih baik, hanya 50% orang tua yang peduli dengan kesehatan mental anak.
Setahun terakhir, saya lebih sering bermain Twitter daripada sosial media lain. Ini alasannya. Yang pertama, Twitter basisnya adalah tulisan. Menjadikan Twitter lebih cenderung tidak digunakan untuk pamer, sehingga baik untuk kesehatan mental. Jujur aja aku emang insecure ngeiat postingan postingan orang orang di Instagram 😅. Yang kedua. Buat saya yang memang suka diskusi. Diskursus yang terjadi di Twitter lebih adil. Ini karena formatnya yang saya pikir lebih demokratis. Jika di Facebook atau Instagram sebuah komentar di sebuah lapak akan mudah di atur oleh si pemilik lapak, memungkinkan pemilik postingan menghapus atau menutup kolom komentar di postingannya. Yang ketiga Twitter lebih memunculkan orang orang apa adanya. Saya punya teman yang dipanggil si bego ketika kuliah. Di Twitter, dia berdebat dengan epidemiolog dengan argumen yang solid. Sesuatu yang sepertinya sulit terjadi di dunia nyata. Okay, itu alasan aku sekarang lebih sering main di Twitter. Aku pikir ini tergantung pre...
Comments
Post a Comment